Jumat, 22 November 2013

GADIS SADE


Aku tak mau terus seperti ini
Aku tak mau menjadi burung dalam sangkarnya
Aku tak mau hanya terpaku pada keadaAan
Aku ingin bebas dengan apa yang aku impikan 
Tahun 2008
Sinar matahari pagi menerobos masuk dibalik dinding dan ventilasi jendela sehingga membuatku terjaga dari alam bawah sadarku. Pandanganku menyapu ke sekeliling ruangan. Sebuah ruangan yang cukup besar dengan lantai terbuat dari semen, dinding bambu yang kokoh, begitu pula dengan pintu dari bambu dengan pinggirannya yang terbuat dari seng sehingga membuat keributan setiap kali pintu itu dibuka atau ditutup, dan atap yang terbuat dari jerami. Terlihat pula sebuah meja belajar dan komputer yang hampir rusak pemberian orang dermawan yang berdiri di pojok ruangan. Satu-satunya komputer di rumah dan juga di desa ini. 
 “Dinde, mengapa kamu baru bangun terik begini?” Inaq masuk ke kamarku, suara pintu itu terdengar  bising seakan-akan membuat gendang telinga orang yang mendengarnya akan pecah.
“Maafkan tiang Naq. Tadi malam tiang belajar sampai larut malam” Jawabku sembari merapikan tempat tidur yang hanya beralaskan tikar dari pintalan benang-benang tenun.
“Mengapa kamu belajar? Kamu sudah tamat SMA Dinde, ndak ada lagi buku yang harus kamu pelajari. Kamu hanya perlu belajar menyesek benang-benang itu.” Inaq berkata dengan lembutnya. Mendengar Inaq berkata demikian terdapat sebuah kegelisahan di dalam hatiku.
“Inaq, tiang ingin kuliah.” Kataku singkat. Inaq terdiam. Terlihat kerutan di dahinya seperti orang kebingungan. Melihat raut wajah Inaq seperti itu, kulanjutkan perkataanku.
“Inaq kuliah itu sekolah. Orang kota setelah tamat SMA melanjutkan ke  perguruan tinggi. Tiang ingin kembali sekolah Inaq. Tiang ingin menjadi mahasiswi. Tiang ingin mengembangkan desa ini Inaq”  Aku berkata dengan mantap.
Inaq hanya terdiam mendengarku berbicara demikian. Raut wajahnya menandakan bahwa ia masih bingung dengan perkataanku. Wajar saja, selama ini belum ada seorang gadis Desa Sade yang keluar desa untuk melanjutkan sekolah. Tamat SMA saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat desa ini. Jangankan seorang gadis, lelakipun jarang keluar desa untuk bersekolah, kalaupun keluar desa paling-paling hanya merantau ke kota-kota besar ataupun menjadi TKI di negara orang.
         
Setetes embun jatuh tepat di tanganku. Pandanganku melayang ke sekeliling desa. Tampak rumah-rumah panggung sederhana dengan atap jerami diatasnya persis seperti rumahku. Tampak gadis desa yang sebaya denganku sudah memulai aktifitasnya untuk menyesek benang-benang emas itu. Sedangkan para lelaki mulai turun ke sawah untuk membajak dan menanam padi atau tanaman lain yang dapat ditanam. Pemandangan yang selalu kulihat setiap harinya. Ahh... Aku sungguh ingin desa ini berbeda.
“Dinde, mengapa kamu ndak pergi bersama teman-temanmu untuk menyesek?” Mamiq mendekatiku dan membuyarkan lamunanku.
“Tiang malas Mamiq. Tiang ndak mau menyesek.” Kataku jujur kepadanya. Aku tahu pernyataanku ini akan membuatnya marah besar, tapi tak apalah. Apapun yang terjadi denganku nanti, aku siap karena ini pilihanku.
“Maksud kamu apa? Kamu mau mempermalukan Mamiq? Bagaimana bisa anak seorang kepala desa ndak bisa nyesek” Mamiq mulai menaikkan satu oktaf nada suaranya.
“Tiang ndak pernah mau mempermalukan Mamiq. Tiang hanya ingin kuliah. Tiang hanya ingin menata desa ini. Mamiq tiang mohon, ijinkan tiang.”
“Apa yang mau kamu tata? Desa ini sudah bagus Laila, ndak ada yang harus kamu tata lagi. Kamu hanya seorang gadis desa, kamu bukan gadis kota. Kamu hanya perlu menyesek benang-benang itu kemudian kamu jual kepada para wisatawan di Pantai Kuta. Ingat itu Laila.” Kata-kata Mamiq kembali lembut, tetapi justru membuatku seperti tersambar petir. Apa bedanya aku dengan mereka? Ada apa dengan gadis kota? Apa karena aku hanya seorang gadis desa? Aku hanya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Itu saja.
“Mamiq salah! Desa ini memang sudah bagus, tapi siapa yang mengenal desa kita? Jangankan wisatawan mancanegara, wisatawan lokal saja tidak mengenal siapa kita. Mengapa kita yang mencari para wisatawan ke Pantai Kuta? Mengapa bukan mereka yang mencari kita? Kalau kita hanya berdiam diri seperti ini, beberapa tahun kedepan corak tenun khas desa kita akan direbut oleh orang-orang yang mempunyai uang banyak, Miq.”
“Kamu masih kecil Laila, kamu ndak tahu apa-apa tentang desa ini. Kamu ndak tahu tentang warisan nenek moyang kamu. Seorang gadis desa Sade ndak boleh keluar desa.”
“Mamiq tiang cinta sama desa ini. Bukannya tiang ndak mau menjadi tukang sesek atau melanjutkan tradisi desa ini. Tiang hanya ingin desa ini berkembang tanpa melepaskan nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya. Hanya itu saja.” Aku mulai menitikkan air mata
“ Ah dasar keras ate. Baiklah, besok pagi Amaq undang seluruh warga desa dan kamu bisa meminta ijin kepada mereka semua.”  Amaq akhirnya mengalah dan memberikan kesempatan kepadaku.
Keesokan harinya aku bangun lebih awal dari biasanya. Hatiku diliputi rasa cemas yang teramat dalam. Bagaimana bila aku tidak diberikan ijin? Seluruh masyarakat sudah berkumpul. Mereka semua heran karena tidak biasanya mereka berkumpul seperti ini. Mamiq kemudian memberikanku kesempatan untuk meminta ijin kepada mereka.
“Yang tiang hormati  masyarakat desa. Tiang ingin meminta ijin untuk melanjutkan sekolah ke bangku kuliah. Tiang ingin memajukan desa ini. Tiang ....”
“Alaah, buat apa kamu kuliah, menghabiskan biaya saja. Saya tidak setuju!” Perkataanku dipotong oleh salah seorang warga desa. Akh aku sudah tahu akan menjadi seperti ini. Akan tetapi..
“Saya setuju Laila melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi saya ndak mau Laila bersekolah membawa barang-barang ataupun uang yang ada di desa ini. Saya ingin dia pergi dengan tangan kosong dan hanya membawa pakaiannya” Kata Mamiq Sari’ah. Salah seorang yang sangat dihormati di desa ini. Tidak ada yang berani menentang beliau. Sehingga mau tidak mau masyarakat mengijinkanku pergi. Akhirnya aku pergi tanpa membawa satu rupiahpun.Akhirnya  aku bukan lagi seekor burung yang hanya terkurung dalam sangkarnya..


Tahun 2013
            Kakiku melangkah dengan ringan, hingga akhirnya aku tiba di sebuah desa yang amat kusayangi. Aku benar-benar rindu desa ini. Aku kembali dan aku telah mendapatkan sebuah gelar. Perkenalkan namaku Laila Munawarah S.E. Waaahh sungguh keren bukan? Aku telah menamatkan pendidikanku dan mendapatkan gelar sarjana management economi. Meski pengorbanan untuk mendapatkan gelar ini sangat susah. Bahkan aku harus bekerja memebanting tulang untuk biaya sekolah dan kehidupanku sehari-hari. Mamiq dan Inaq tidak pernah mengunjungiku karena mereka sendiri tidak tahu aku berada dimana. Tapi, Aku percaya dengan ini aku dapat memajukan desa ini, seperti yang aku bilang sebelumnya.
             Seorang wanita berumur sekitar 50 tahun menatapku dengan heran. Disebelahnya berdiri pula seorang pria dengan umur yang hampir mirip. Mereka  mengamati tubuhku dari ujung kaki hingga kepala, beberapa detik kemudian mereka berlari memelukku.
            “Dinde, anakku. Bagaimana kabarmu nak? Selama 5 tahun Inaq selalu memikirkanmu Dinde.” Wanita itu adalah Inaq, seorang ibu yang sangat kurindukan selama ini.
            “Tiang baik-baik saja Inaq. Tiang kangen sama Inaq dan Mamiq.”  Tuturku
            “ Mamiq sungguh senang kamu kembali. Lalu bagaimana selanjutnya rencanamu untuk desa ini? “ tanpa basa basi Amaq sepertinya ingin segera melihat seberapa besar aku belajar selama ini.
            “ Aku ingin mengajarkan gadis desa untuk menarik wisatawan kemari, bukan kita yang mencari mereka. Aku juga ingin menampilkan budaya kita ke luar agar mereka tahu bagaimana sebenarnya Desa Sade itu. Aku tidak ingin ada orang lain yang mencuri kebudayaan kita. Kita hanya perlu menata desa ini lebih bagus tanpa meninggalkan budaya yang ada di dalamnya. Pokoknya Mamiq serahkan saja padaku.”
            Sejak itu aku mulai “beraksi”. Aku minta bantuan kepada para pemuda desa untuk mempercantik rumah-rumah panggung itu. Setelah itu di depan desa, kami tulis palang “Desa Sade”. Aku juga mempromosikan keunikan desaku lewat media teknologi. Tak sampai sebulan sudah ada wisatawan yang datang kemari. Pada saat wisatawan datang, aku mencontohkan bagaimana cara menarik simpati wisatan dengan songket kami.
            Jadilah desaku, Desa Sade yang menyenangkan, yang ramai akan wisatawan. Bahkan beberapa statiun televisi meliput keunikan desa kami. Terimakasih Tuhan telah memberikan aku kesempatan untuk menjadi seorang gadis Sade yang baik.
TAMAT

KETERANGAN
Dinde : panggilan untuk seorang anak perempuan
Tiang : saya
Inaq : Ibu
Mamiq  : Ayah
Nyesek : proses pemintalan benang menjadi songket
Songket : kain khas Sasak
Ndak : tidak
Keras ate : keras kepala
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar