Aku tak mau
terus seperti ini
Aku tak mau
menjadi burung dalam sangkarnya
Aku tak mau
hanya terpaku pada keadaAan
Aku ingin
bebas dengan apa yang aku impikan
Tahun 2008
Sinar matahari pagi menerobos masuk dibalik dinding dan
ventilasi jendela sehingga membuatku terjaga dari alam bawah sadarku.
Pandanganku menyapu ke sekeliling ruangan. Sebuah ruangan yang cukup besar
dengan lantai terbuat dari semen, dinding bambu yang kokoh, begitu pula dengan
pintu dari bambu dengan pinggirannya yang terbuat dari seng sehingga membuat
keributan setiap kali pintu itu dibuka atau ditutup, dan atap yang terbuat dari
jerami. Terlihat pula sebuah meja belajar dan komputer yang hampir rusak
pemberian orang dermawan yang berdiri di pojok ruangan. Satu-satunya komputer
di rumah dan juga di desa ini.
“Dinde, mengapa kamu
baru bangun terik begini?” Inaq masuk ke kamarku, suara pintu itu terdengar bising seakan-akan membuat gendang telinga
orang yang mendengarnya akan pecah.
“Maafkan tiang Naq. Tadi malam tiang belajar sampai larut
malam” Jawabku sembari merapikan tempat tidur yang hanya beralaskan tikar dari
pintalan benang-benang tenun.
“Mengapa kamu belajar? Kamu sudah tamat SMA Dinde, ndak
ada lagi buku yang harus kamu pelajari. Kamu hanya perlu belajar menyesek
benang-benang itu.” Inaq berkata dengan lembutnya. Mendengar Inaq berkata
demikian terdapat sebuah kegelisahan di dalam hatiku.
“Inaq, tiang ingin kuliah.” Kataku singkat. Inaq terdiam.
Terlihat kerutan di dahinya seperti orang kebingungan. Melihat raut wajah Inaq
seperti itu, kulanjutkan perkataanku.
“Inaq kuliah itu sekolah. Orang kota setelah tamat SMA
melanjutkan ke perguruan tinggi. Tiang
ingin kembali sekolah Inaq. Tiang ingin menjadi mahasiswi. Tiang ingin
mengembangkan desa ini Inaq” Aku berkata
dengan mantap.
Inaq hanya terdiam mendengarku berbicara demikian. Raut
wajahnya menandakan bahwa ia masih bingung dengan perkataanku. Wajar saja,
selama ini belum ada seorang gadis Desa Sade yang keluar desa untuk melanjutkan
sekolah. Tamat SMA saja sudah merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat
desa ini. Jangankan seorang gadis, lelakipun jarang keluar desa untuk
bersekolah, kalaupun keluar desa paling-paling hanya merantau ke kota-kota
besar ataupun menjadi TKI di negara orang.
Setetes embun jatuh tepat di tanganku. Pandanganku
melayang ke sekeliling desa. Tampak rumah-rumah panggung sederhana dengan atap
jerami diatasnya persis seperti rumahku. Tampak gadis desa yang sebaya denganku
sudah memulai aktifitasnya untuk menyesek benang-benang emas itu. Sedangkan
para lelaki mulai turun ke sawah untuk membajak dan menanam padi atau tanaman
lain yang dapat ditanam. Pemandangan yang selalu kulihat setiap harinya. Ahh...
Aku sungguh ingin desa ini berbeda.
“Dinde, mengapa kamu ndak pergi bersama teman-temanmu
untuk menyesek?” Mamiq mendekatiku dan membuyarkan lamunanku.
“Tiang malas Mamiq. Tiang ndak mau menyesek.” Kataku
jujur kepadanya. Aku tahu pernyataanku ini akan membuatnya marah besar, tapi
tak apalah. Apapun yang terjadi denganku nanti, aku siap karena ini pilihanku.
“Maksud kamu apa? Kamu mau mempermalukan Mamiq? Bagaimana
bisa anak seorang kepala desa ndak bisa nyesek” Mamiq mulai menaikkan satu
oktaf nada suaranya.
“Tiang ndak pernah mau mempermalukan Mamiq. Tiang hanya
ingin kuliah. Tiang hanya ingin menata desa ini. Mamiq tiang mohon, ijinkan
tiang.”
“Apa yang mau kamu tata? Desa ini sudah bagus Laila, ndak
ada yang harus kamu tata lagi. Kamu hanya seorang gadis desa, kamu bukan gadis
kota. Kamu hanya perlu menyesek benang-benang itu kemudian kamu jual kepada
para wisatawan di Pantai Kuta. Ingat itu Laila.” Kata-kata Mamiq kembali
lembut, tetapi justru membuatku seperti tersambar petir. Apa bedanya aku dengan
mereka? Ada apa dengan gadis kota? Apa karena aku hanya seorang gadis desa? Aku
hanya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Itu saja.
“Mamiq salah! Desa ini memang sudah bagus, tapi siapa
yang mengenal desa kita? Jangankan wisatawan mancanegara, wisatawan lokal saja
tidak mengenal siapa kita. Mengapa kita yang mencari para wisatawan ke Pantai
Kuta? Mengapa bukan mereka yang mencari kita? Kalau kita hanya berdiam diri
seperti ini, beberapa tahun kedepan corak tenun khas desa kita akan direbut
oleh orang-orang yang mempunyai uang banyak, Miq.”
“Kamu masih kecil Laila, kamu ndak tahu apa-apa tentang
desa ini. Kamu ndak tahu tentang warisan nenek moyang kamu. Seorang gadis desa
Sade ndak boleh keluar desa.”
“Mamiq tiang cinta sama desa ini. Bukannya tiang ndak mau
menjadi tukang sesek atau melanjutkan tradisi desa ini. Tiang hanya ingin desa
ini berkembang tanpa melepaskan nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya. Hanya
itu saja.” Aku mulai menitikkan air mata
“ Ah dasar keras ate. Baiklah, besok pagi Amaq undang
seluruh warga desa dan kamu bisa meminta ijin kepada mereka semua.” Amaq akhirnya mengalah dan memberikan
kesempatan kepadaku.
Keesokan harinya aku bangun lebih awal dari biasanya.
Hatiku diliputi rasa cemas yang teramat dalam. Bagaimana bila aku tidak
diberikan ijin? Seluruh masyarakat sudah berkumpul. Mereka semua heran karena
tidak biasanya mereka berkumpul seperti ini. Mamiq kemudian memberikanku
kesempatan untuk meminta ijin kepada mereka.
“Yang tiang hormati
masyarakat desa. Tiang ingin meminta ijin untuk melanjutkan sekolah ke
bangku kuliah. Tiang ingin memajukan desa ini. Tiang ....”
“Alaah, buat apa kamu kuliah, menghabiskan biaya saja.
Saya tidak setuju!” Perkataanku dipotong oleh salah seorang warga desa. Akh aku
sudah tahu akan menjadi seperti ini. Akan tetapi..
“Saya setuju Laila melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi
saya ndak mau Laila bersekolah membawa barang-barang ataupun uang yang ada di
desa ini. Saya ingin dia pergi dengan tangan kosong dan hanya membawa
pakaiannya” Kata Mamiq Sari’ah. Salah seorang yang sangat dihormati di desa
ini. Tidak ada yang berani menentang beliau. Sehingga mau tidak mau masyarakat
mengijinkanku pergi. Akhirnya aku pergi tanpa membawa satu rupiahpun.Akhirnya aku bukan lagi seekor burung yang hanya
terkurung dalam sangkarnya..
Tahun 2013
Kakiku
melangkah dengan ringan, hingga akhirnya aku tiba di sebuah desa yang amat
kusayangi. Aku benar-benar rindu desa ini. Aku kembali dan aku telah
mendapatkan sebuah gelar. Perkenalkan namaku Laila Munawarah S.E. Waaahh
sungguh keren bukan? Aku telah menamatkan pendidikanku dan mendapatkan gelar
sarjana management economi. Meski
pengorbanan untuk mendapatkan gelar ini sangat susah. Bahkan aku harus bekerja
memebanting tulang untuk biaya sekolah dan kehidupanku sehari-hari. Mamiq dan
Inaq tidak pernah mengunjungiku karena mereka sendiri tidak tahu aku berada
dimana. Tapi, Aku percaya dengan ini aku dapat memajukan desa ini, seperti yang
aku bilang sebelumnya.
Seorang wanita berumur sekitar 50 tahun
menatapku dengan heran. Disebelahnya berdiri pula seorang pria dengan umur yang
hampir mirip. Mereka mengamati tubuhku
dari ujung kaki hingga kepala, beberapa detik kemudian mereka berlari
memelukku.
“Dinde, anakku.
Bagaimana kabarmu nak? Selama 5 tahun Inaq selalu memikirkanmu Dinde.” Wanita
itu adalah Inaq, seorang ibu yang sangat kurindukan selama ini.
“Tiang
baik-baik saja Inaq. Tiang kangen sama Inaq dan Mamiq.” Tuturku
“ Mamiq
sungguh senang kamu kembali. Lalu bagaimana selanjutnya rencanamu untuk desa
ini? “ tanpa basa basi Amaq sepertinya ingin segera melihat seberapa besar aku
belajar selama ini.
“ Aku
ingin mengajarkan gadis desa untuk menarik wisatawan kemari, bukan kita yang
mencari mereka. Aku juga ingin menampilkan budaya kita ke luar agar mereka tahu
bagaimana sebenarnya Desa Sade itu. Aku tidak ingin ada orang lain yang mencuri
kebudayaan kita. Kita hanya perlu menata desa ini lebih bagus tanpa
meninggalkan budaya yang ada di dalamnya. Pokoknya Mamiq serahkan saja padaku.”
Sejak
itu aku mulai “beraksi”. Aku minta bantuan kepada para pemuda desa untuk
mempercantik rumah-rumah panggung itu. Setelah itu di depan desa, kami tulis palang
“Desa Sade”. Aku juga mempromosikan keunikan desaku lewat media teknologi. Tak
sampai sebulan sudah ada wisatawan yang datang kemari. Pada saat wisatawan
datang, aku mencontohkan bagaimana cara menarik simpati wisatan dengan songket
kami.
Jadilah
desaku, Desa Sade yang menyenangkan, yang ramai akan wisatawan. Bahkan beberapa
statiun televisi meliput keunikan desa kami. Terimakasih Tuhan telah memberikan
aku kesempatan untuk menjadi seorang gadis Sade yang baik.
TAMAT
KETERANGAN
Dinde : panggilan untuk seorang anak perempuan
Tiang : saya
Inaq : Ibu
Mamiq : Ayah
Nyesek : proses pemintalan benang menjadi songket
Songket : kain khas Sasak
Ndak : tidak
Keras ate : keras kepala




